Seketika penyesalan itu datang menghampiri, maka tidak ada kata yang terucap selain mengakui kesalahan dan meminta ampun kepada Allah SWT atas kesalahan yang diperbuat.
Hal itu muncul, dikarenakan kesalahan yang cukup fatal dilakukan dalam menjalankan roda kehidupan ekonomi dan sosial. Sehingga, cita-cita yang ingin hidup bahagia, namun berunjung pada kegelisahan.
Perlahan, kesalahan itu mulai diperbaiki, walaupun dilakukan bertatih-tatih. Namun percayalah, bahwa setiap ikhtiar akan selalu diperhitungkan oleh Allah SWT dzat yang maha mengetahui setiap jerih payah hambaNya.
Meyakinkan, bahwa setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan seperti yang telah di firmankan dalam WahyuNya (Al-Qur'an).
Maka sepantasnya, selaku hambaNya agar tidak berputus asa dan terus bangkit walaupun bertatih-tatih seraya meyakin, bahwa akan datang suatu waktu kebahagiaan dan ketenangan pada suatu hari nanti.
Entah perlu berapa lama itu, namun yang pasti secepatnya harus terselesaikan, karena sudah banyak yang terbengkalai, akibat satu faktor rendahnya perekonomian yang tak kunjung usai.
Sebelum, persoalan itu tuntas, maka akan selalu menghantui pikiran, bahkan mengganggu terhadap sektor spiritual, pendidikan dan sosial lainnya. Itulah yang sangat dikhawatirkan oleh insan yang dhaif ini.
Seketika, pikiran terus berputar-putar dan berputar untuk mencari solusi jalan keluarnya. Apa yang selalu muncul di benak jiwanya adalah berpasrah diri kepada Allah seraya berdoa dan berusaha untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan yang fana ini.
Semoga masalah ini cepat usai dan bisa hidup dengan tenang, sehat serta bahagia dan selamat dunia akhirat.

Posting Komentar