Salah satu Pemulung, Mariya (56) mengatakan, bahwa dirinya bersama pemulung lainnya datang ke lokasi sejak Minggu 4 April 2021 kemarin.
Sambil memotong kawat simpai, ia menceritakan, bahwa dirinya masih belum bertemu dengan pemilik toko yang terbakar itu.
"Untuk ruko yang hancur, pemiliknya enggak ada datang. Saya ambil kawat simpai, barang yang bisa diambil orang, kita ambil. Hasil barang ini nanti dijual ke rongsokan. Harganya Rp sekitar 2 ribu perkilo dan hasil ini untuk beli beras dan kebutuhan rumah tangga," kata Pemulung yang sejak 30 tahun ini.
Ia mengaku memang kebiasaannya mendatangi lokasi kebakaran untuk mengambil barang bekas hingga mendapatkan 15 kilogram kawat bekas dari sisa bangunan.
Dari hasil barang bekas tersebut, ia akui untuk keperluan keluarga dan membiayai anaknya yang sedang kuliah di BSI semester 6.
"Jadi saya punya anak empat, yang bungsu kuliah di BSI semester 6, duanya sudah kawin duanya belum. Jadi hasil saya untuk biaya anak kuliah, untuk bayar anak kuliah, "katanya.
Ia menginginkan sukses dan tidak menginginkan nasib anaknya seperti nasib dirinya saat ini.
"Mamanya bodoh kerjanya gini (pemulung), tapi anak jangan "," ungkapnya.
Dengan tekat yang tinggi, Mariya menceritakan, kesehariannya memang keliling Pontianak untuk mencari barang-barang bekas, seperti besi, paku dan lainnya dengan suka sepeda.
"Setiap hari keliling cari besi, pakai sepeda. Kadang dapat 30 ribu, tapi biasa 20 ribu dan biasa enggak ada. Jadi enggak nentu," kata warga Pontianak sejak 40 tahun ini. Mamanya bodoh kerjanya gini (pemulung), tapi anak jangan "," ungkapnya.
Dengan tekat yang tinggi, Mariya menceritakan, kesehariannya memang keliling Pontianak untuk mencari barang-barang bekas, seperti besi, paku dan lainnya dengan suka sepeda.
"Setiap hari keliling cari besi, pakai sepeda. Kadang dapat 30 ribu, tapi biasa 20 ribu dan biasa enggak ada. Jadi enggak nentu," kata warga Pontianak sejak 40 tahun ini. Mamanya bodoh kerjanya gini (pemulung), tapi anak jangan," ungkapnya.
Dengan tekat yang tinggi, Mariya menceritakan, kesehariannya memang keliling Pontianak untuk mencari barang-barang bekas, seperti besi, paku dan lainnya dengan suka sepeda.
"Setiap hari keliling cari besi, pakai sepeda. Kadang dapat 30 ribu, tapi biasa 20 ribu dan biasa enggak ada. Jadi enggak nentu," kata warga Pontianak sejak 40 tahun ini.
Rokib


Posting Komentar